Monthly Archives: May 2012

PERANAN KEPALA SEKOLAH DALAM BIDANG PELAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Apa yang harus diketahui pustakawan untuk mengelola perpustakaan sekolah yang memenuhi standar dan dapat dimanfaatkan secara maksimal merupakan tanggung jawab

Kepala Sekolah selaku administrator pendidikan
Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan hendaknya mengetahui bagaimana mengelola perpustakaan sekolah yang memenuhi standart, agar perpustakaan dapat dimanfaatkan secara optimal. Adalah menjadi tanggung jawab kepala sekolah untuk mengambil kepemimpinan di dalam mengembangkan perpustakaan sekolah yang memenuhi standar. Maka dari itu kepala sekolah hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:

(1) perpustakaan sekolah sebaiknya berada dibawah “direction” seseorang/staf sekolah yang terlatih dan terdidik dengan baik dalam bidang perpustakaan;

(2) perpustakaan sekolah harus memiliki sejumlah buku “reference” yang cukup (termasuk ensiklopedia, atlas, kamus dan sejenisnya), sejumlah buku dari semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah (yang patut digunakan sebagai bacaan pelengkap siswa) dan bahan-bahan umum yang terseleksi sesuai dengan minat dan kebutuhan tersebut;

(3) memakai suatu sistem klasifikasi tertentu yang memadai, dimana koleksi (buku) diklasifikasi, di label, dan di “shelving” berdasarkan sistem tersebut;

(4) adanya perlengkapan yang memadai dalam bentuk ruangan, peralatan dan bahan-bahan untuk mereparasi, disampinng itu juga “jalan masuk “accessioning”;

(5) melengkapi dan mengejakan suatu “record system” yang meliputi catatan peminjaman dan pengembalian, catatan-catatan buku yang hilanng, rusak atau dibuang.

(6) melengkapi dengan sejumlah fasilitas untuk membeli buku-buku termasuk publikasi dan informasi lain tentang buku-buku yang baru diterbitkan;

7) adanya perlengkapan bagi siswa, termasuk jadwal yang lengkap.

Untuk mengelola perpuskaan sekolah, kepala sekolah perlu juga memahami bidang-bidang yang berkaitan dengan perpustakaan. Bidang-bidang tersebut meliputi: bidang “personnel”, “service”, “using dan user” (seperti yang dikemukakan oleh Rusina Syahrial dalam Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah).
Dalam Bidang “personnel” Kepala Sekolah harus memahami kualifikasi personil yang akan memiliki kemampuan orgasisator,administrator,librarian, serta deorang personnel-worker bukan hanya despenser of books saja.
Kesuksesan perpustakaan sekolah sebagai sarana penunjang pendidikan dan pengajaran di sekolah sangat tergantung pada kualifikasi personil perpustakaan itu sendiri. Mengingat hal tersebut, seorang, seorang kepala sekolah hendaknya menaruh perhatian pada personalia dan pengelolaannya, yakni:

(1) memilih pemimpin atau kepala perpustakaan yang tidak hanya sebagai seorang pembagi buku (dispenser of books), namun lebih dari itu adalah seorang pemimpin perpustakaan, organisator, guru, administrator, dan seorang personnel-worker;. Disamping itu ia tidak hanya sebagai seorang “librarian” yang terlatih dan terdidik dalam bidang perpustakaan, namun juga harus mengerti dan memahami bagaimana memberi stimulasi kepada siswa dan guru untuk memanfaatkan pemakaian perpustakaan secara maksimal;

(2) menggembangkan perwakilan perpustakaan siswa di dalam organisasi peerintahan siswa (OSIS) dan mengadakan pemilihan komite perpustakaan siswa.

Dalam Bidang “service”  Kepala Sekoplah selaku [rogramere pelaksanaan  pendidikan di sekolah, maka tugas kepala sekolah dalam bidang “service” akan terlaksana dengan baik apabiola mempertimbangkan hal-hal berikut ini:

(1) mengenal, memahami dan mengembangkan peranan perpustakaan dalam rangka mengembangkan program pengajaran;

(2) mengenal masyarakat, negara, dam lembaga perpustakaan nasional;

(3) menyediakan secara memadai dan menarik, ruang/gedung dan perlengkapan perpustakaan;

(4) menyusun jadwal agar pelayanan perpustakaan agar pelayanan lebih efektif;

(5) membantu pimpinan perpustakaan sekolah dalam mengembagkan policy, penyusun staf, dan disiplin dalam perpustakaan.

(6) Kepala sekolah memiliki tanggung jawab untuk menstimulasi dan membimbing stafnya bekerja sama dengan pimpinan, serta membentuk ‘library-committes” untuk memilih dan memesan buku-buku baru bagi perpustakaan memutuskan bahan-bahan koleksi mana yang boleh “dicabut” dari perpustakaan untuk keperluan pengajaran di kelas, serta membantu mengembangkan peraturan/tata tertib serta penjadwalan;

(7) Menyediakan biaya secara memadai berdasarkan anggaran tahunan, juga dengan perencanaan yang dapat dikerjakan (aplicable)

Dalam Bidang “using dan user”  kepala sekolah  perlu memperhatikan masalah penggunaan (using) perpustakaan sekolah terutama ditujukan kepada “user” (siswa). Perlu petunjuk tentanng penggunaan buku, bagaimana cara mencari buku yang dibutuhkan, penggunaan buku katalog, penggunaan buku reference, serta pembuatan bibliografi dan penempatan catatan.

Oleh Karena itu  dengan penggunaan perpustakan sekolah hendaknya:

(1) kepala sekolah meluangkan waktu untuk perpustakaan untuk mengadakan observasi terhadap kemampuan siswa menggunakan bahan-bahan pustaka dan ruang lingkup penggunaanya;

(2) kepala sekolah mengharapkan kepada seluruh staf sekolah untuk selalu mengetahui perpustakaan dan bagaimana menggunakan bahan-bahan pustaka untuk kegiatan belajar mengajarnya;

(3) kepala sekolah selalu mengadakan bimbingan bacaan di dalam memajukan bacaan siswa dan mengadakan “cheking” dengan pimpinan perpustakaan.

(4) kepala sekolah berusaha mengembangkan penggunaan perpustakaan sekolah dengan melaksanakan supervisi pengajaran terhadap guru-guru.
Kegiatan akhir dari pengelolaan perpustakaan adalah kegiatan evaluasi perpustakaan sekolah. Evaluasi perpustakaan harus didasarkan pada kriteria yang berkaitan dengan staf perpustakaan, penggunaan perpustakaan oleh murid, administrasi dan organisasi perpustakaan, pemilihan materi perpustakaan, dan karakteristik khusus dari layanan materi perpustakaan, sekolah. Bagi sekolah yang sudah menerapkan manajemen ISO, sistem birokrasi tetap tetap dijalankan secara maksimal tanpa mengurang kreteria dalam kegiatan evaluasi perpustakaan sekolahg di atas.

Advertisements

1. BERCINTA dengan TELEVISI

BERCINTA dengan TELEVISI

BERCINTA dengan TELEVISI

NO.KODE : 1228/621139/MUL/B
Judul        : BERCINTA dengan TELEVISI
Editor      : DEDDY MULYANA, IDI SUBANDI IBRAHIM
Penerbit : Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya, 1997
Cetakan   : Pertama, 1997
ISBN         : 979-514-671-8

” . . .televisi sudah menjadi the first god. Salah satu kekuatan televisi adalah kemampuan untuk menyajikan realitas kedua. lewat layar kecil yang berfungsi sebagai jendela dunia, para pemirsa diarahkan untuk mendifinisikan situasi sesuai dengan kehendak elit pengelola informasi. Gambaran dunia dalam televisi adalah gambaran dunia yang sudah diolah”.(Jalaluddin Rakhmad)
“. . . kasus buah bibir RCTI menarik untuk disimak. Mengapa industri hiburan cenderung mendramatisasi situasi sebenarnya? pertama, semata-mata pertimbangan bisnis, bad news is good news. Ada kecenderungan orang untuk lebih tertarik pada kisah-kisah perkawinan yang berantakan. Hal ini yang dieksploitasi oleh para industriawan hiburan guna menciduk keuntungan besar”.(Ratna Megawangi).
” . . .strategi management by guilt dalam industri periklanan dimanfaatkan habis-habisan. Televisi telah mengubah manusia menjadi KONSUMTERORIS”. (JAYA SUPRANA).
“. . . KETIKA TELEVISI BELUM DATANG, MASYARAKAT SENANTIASA MENCARI JENIS PERMAINAN DAN HIBURAN UNTUK MENGISI WAKTU LUANG MEREKA. NAMUN KETIKA TELEVISI DATANG DAN AKTIVITAS ANAK-ANAK MEREKA BAIK FISIK MAUPUN BATIN DIRAMPAS TELEVISI, MANUSIA MENJADI KEBINGUNGAN”. (GARIN NUGROHO)
Menarik? Begitu burukkah dampak yang disampaikan televisi pada pemirsanya? Banjir informasi yang merasuki benak masyarakat kita dari kaum pedesaan yang tak kunjung reda. Benarkah konsumerisme meningkat karena ulah TELEVISI? Apakah adegan kekerasan dan seks yang ditampilkan televisi telah mengubah moralitas bangsa kita? Apa untungnya RUU Siaran baghi perkembangan televisi? Para pembaca yang budiman? BUKU INI MENGAJAK ANDA MERENUNG SEJENAK” BENARKAH TELEVIS SUDAH MENJADI TUHAN KITA YANG PERTAMA?”.

BERCINTA dengan TELEVISI

NO.KODE : 1228/621139/MUL/B

Judul : BERCINTA dengan TELEVISI

Editor : DEDDY MULYANA, IDI SUBANDI IBRAHIM

Penerbit : Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya, 1997

Cetakan : Pertama, 1997

ISBN : 979-514-671-8

 

” . . .televisi sudah menjadi the first god. Salah satu kekuatan televisi adalah kemampuan untuk menyajikan realitas kedua. lewat layar kecil yang berfungsi sebagai jendela dunia, para pemirsa diarahkan untuk mendifinisikan situasi sesuai dengan kehendak elit pengelola informasi. Gambaran dunia dalam televisi adalah gambaran dunia yang sudah diolah”.(Jalaluddin Rakhmad) “. . . kasus buah bibir RCTI menarik untuk disimak. Mengapa industri hiburan cenderung mendramatisasi situasi sebenarnya? pertama, semata-mata pertimbangan bisnis, bad news is good news. Ada kecenderungan orang untuk lebih tertarik pada kisah-kisah perkawinan yang berantakan. Hal ini yang dieksploitasi oleh para industriawan hiburan guna menciduk keuntungan besar”.(Ratna Megawangi). ” . . .strategi management by guilt dalam industri periklanan dimanfaatkan habis-habisan. Televisi telah mengubah manusia menjadi KONSUMTERORIS”. (JAYA SUPRANA). “. . . KETIKA TELEVISI BELUM DATANG, MASYARAKAT SENANTIASA MENCARI JENIS PERMAINAN DAN HIBURAN UNTUK MENGISI WAKTU LUANG MEREKA. NAMUN KETIKA TELEVISI DATANG DAN AKTIVITAS ANAK-ANAK MEREKA BAIK FISIK MAUPUN BATIN DIRAMPAS TELEVISI, MANUSIA MENJADI KEBINGUNGAN”. (GARIN NUGROHO) Menarik? Begitu burukkah dampak yang disampaikan televisi pada pemirsanya? Banjir informasi yang merasuki benak masyarakat kita dari kaum pedesaan yang tak kunjung reda. Benarkah konsumerisme meningkat karena ulah TELEVISI? Apakah adegan kekerasan dan seks yang ditampilkan televisi telah mengubah moralitas bangsa kita? Apa untungnya RUU Siaran baghi perkembangan televisi? Para pembaca yang budiman? BUKU INI MENGAJAK ANDA MERENUNG SEJENAK” BENARKAH TELEVIS SUDAH MENJADI TUHAN KITA YANG PERTAMA?”.

BELAJAR OTODIDAK MENJADI GITARIS ANDAL

BELAJAR OTODIDAK MENJADI GITARIS ANDAL

BELAJAR OTODIDAK MENJADI GITARIS ANDAL

NO.KODE : 1153/780/NUG/L
Judul : BELAJAR OTODIDAK MENJADI GITARIS ANDAL
Penulis : SLAMET RIYANTO
Penerbit : Jogjakarta: Penerbit ANDI OFFSET,2009
Cetakan : Pertama, Januari 2009
ISBN : 978-979-29-0771-1

BELAJAR OTODIDAK MENJADI GITARIS ANDAL membuat kita mudah dalam belajar gitar. Bermain gitar sulit? Tidak juga! M4emang untuk menjadi maestro-maestro gitar ternama seperti Y ngwie Malmstein, Joe Striani, Stevie Vae, Jeff Beck, Brian May, Stevie Ray Vaugan, Jimmy Hendrix, Jimmy Page, Wes Montgomery, George Benson, John McLaughlin, Lee Ritenour, dan beberapa nama besar lainnya, mungkin diper;lukan bakat alam yang luar biasa serta pola latihan yang spartan. Meski demikian, untuk sekadar bisa menjadi pengiring gitar yang baik/terampil/mahir serta menjadi solois di band-band yang memainkan lagu-lagu serta irama-irama yang tidak terlalu komplek, mungkin hanya diperlukan pola pembelajaran yang sesuai serta disiplin latihan yang memadai. (Bukan setiap orang dapat belajar bersepeda, berenang, atau mengendarai mobil, asal padanya diberikan waktu dan kesempatan belajar yang cukup? Begitu juga setiap orang, pada dasarnya(sampai taraf tertentu) pasti bisa bermain gitar.(Meskipun mungkin hanya beberapa di antara kita yang mampu bermain gitar hingga sampai pada taraf ketrampilan para maestro seperti yang kita sebuitkan di atas).
Buku ini berusaha mengajar pembaca untuk mampu memainkan gitar hingga taraf terampil/mahir. Isi buku yang berjudul Belajar Otodidak Menjadi Gitaris Andal ini yang terutama adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengendara tangga-tangga nada, pembentukan akord-akord serta terampil memainkannya, progesi akord(pergerakan akord dalam suatu lagu pada suatu nada dasar tertentu), serta dasar-dasar bermain melodi dan berimprovisasi menggunakan beberapa tangga nada(scale). Dengan demikian, setelah pembaca menyimak dengan baik isi buku ini serta melakukan latihan-latihan yang intensif diharapkan pembaca mampu menjadi solois untuk band-band yang memainkan lagu-lagu dan irama – irama musik yang tidak terlalu komplek.